paskah 2012,,at Panti Asih

ini dia orang2 yang luar biasa..:) 🙂

Protect Your Heart

Jumat, 20 April 2012

Lukas 6:45
Orang yang baik mengeluarkan barang yang baik dari perbendaharaan hatinya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan barang yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat. Karena yang diucapkan mulutnya, meluap dari hatinya.

Bacaan Alkitab Setahun : Mazmur 110; Lukas 22; Hakim-Hakim 7-8

Amsal 4:23, ‘Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.’ Menurut ayat tersebut, kita dinasehati untuk menjaga hati dengan penuh kewaspadaan. Terkadang kita memang tidak dapat melindungi hati kita sepenuhnya, karena beberapa kejadian di luar kendali kita. Seperti perdebatan dengan rekan kantor, teguran kasar dari atasan dan sebagainya. Tapi kita sendirilah yang menentukan seberapa lama luka hati itu akan menetap.

Kalau kita mau melepaskan pengampunan dan kembali berpikir positif, luka hati kita pasti pulih dengan sendirinya. Namun ada juga luka hati yang sering sengaja kita buat sendiri. Seperti mengingat-ingat kesalahan orang lain atau menggali kenangan-kenangan buruk yang mengecilkan hati dan merendahkan diri dalam memori otak pikiran kita. Untuk kasus ini, kita sendiri yang menentukan seberapa banyak luka yang ingin ditaruh di hati kita.

Hanya Anda sendiri yang lebih tahu hal-hal apa saja yang pernah dan bisa melukai hati Anda. Dengan hati yang terluka, sulit untuk bisa hidup maksimal atau berprestasi di bidang apapun. Luka hati adalah beban untuk kita melompat meraih impian dan cita-cita. Semakin ringan beban itu, dengan penuh sukacita kita dapat berlari makin kencang menuju ke puncak kesuksesan yang Tuhan telah sediakan.

Lupakanlah kesalahan yang pernah Anda perbuat, tapi jangan lupakan pelajaran yang Anda terima.

SUMBER :http://renungan-harian-kita.blogspot.com

SEBUAH RENUNGAN MENJELANG PASKAH

Malam dengan hujan mengguyur. Dan kilat. Dan petir. Dan angin. Jalanan sepi saat aku melintas di perempatan jalan sungai saddang dan veteran di kotaku. Tiba-tiba aku melihat, seorang anak gadis kecil sedang diseret oleh seorang pria kekar dengan menarik rambutnya. Dan tangan pria itu sesekali melayang memukuli wajah gadis cilik yang menangis meraung-raung. Aku terpana melihat peristiwa itu. Ada beberapa kendaraan lewat, menyaksikan kejadian itu, dan berlalu tak peduli. Termasuk seorang anggota polisi bermotor yang hanya melihat sejenak lalu lewat juga. Dan nampaknya tak ada yang peduli dengan gadis cilik itu. Samar-samar aku mendengar bentakan pria kekar itu, “Mana uang, kenapa begitu sedikit yang kau dapat. Bagaimana kita bisa makan bila hanya 500 rupiah saja yang kau dapat……?”

Malam dengan hujan mengguyur. Dan dingin menusuk tulang. Namun jauh lebih dingin lagi dalam sanubariku. Untuk makan, kewajiban siapakah menyediakannya? Apakah kewajiban dara kecil itu, ataukah kewajiban orang dewasa? Dimanakah tersimpan hati nurani kita saat itu? Mengapakah kekerasan seringkali dilakukan atas nama hak kita sebagai orang yang merasa lebih berkuasa? Dengan rasa sakit dalam hatiku, aku melihat peristiwa malam itu sebagai awal segala kekerasan di dunia kita. Ya, kelak bukankah dara kecil yang belum mengenal dunia ini akan melakukan hal yang sama terhadap mereka-mereka yang lebih lemah pula? Dimanakah keadilan saat itu? Dan dimana pula kebenaran yang sering kita dengungkan dalam tiap kesempatan? Kemanakah perginya kepekaan kita sebagai manusia? Kemana?

Melintas di perempatan jalan sungai saddang dan veteran malam itu, membuatku tiba-tiba teringat akan segala kitab dan bacaan mengenai cinta kasih terhadap sesama yang telah kubaca. Teringat akan segala petuah dan nasehat tentang kebenaran dan keadilan yang wajib kita lakukan di dunia ini. Terkenang pula aku akan kalimat-kalimat mengancam akan pembalasan Tuhan bila kita tidak melaksanakan kehendakNya di dunia ini. Ya, aku teringat semuanya dengan perasaan penuh ironi dan kesakitan di dalam hatiku. Manusia, ah manusia, siapakah engkau? Hidup dalam kenyataan jauh, ya jauh lebih menantang pemikiranku daripada segala buku teori tentang bagaimana untuk bisa hidup sejahtera dan aman.

Dan akupun ternyata tidak berhenti untuk mencegah kekerasan itu. Aku takut akan resikonya. Aku takut untuk mencampuri apa yang tidak terkait dengan hidupku sendiri. Maka dengan perasaan perih, aku lewat saja dan meninggalkan kejadian itu jauh di belakangku. Berusaha melupakan kejadian-kejadian nyata dalam dunia untuk segera sembunyi dalam ruang kamarku yang terang, aman dan nyaman. Sambil membaca buku-buku tentang cinta kasih dan upaya untuk meraih keberhasilanku sendiri. Aku pun menjadi manusia yang biasa. Menjadi manusia yang tak juga berhasil untuk menemukan makna keberadaanku di dunia ini. Aku hidup dalam perlindungan kekuasaan, kekayaan dan kekuatan sendiri. Aku.

Menjelang hari raya Paskah ini, aku membaca iklan tentang panggilan untuk menonton bersama film The Passion of Christ. Film yang menampakkan kebengisan manusia terhadap manusia lain yang jauh lebih lemah. Manusia yang tanpa kekuatan, kekuasaan apalagi kekayaan sehingga dapat dengan mudah dipaksa untuk mati. Sebuah film tentang Kristus yang menderita. Namun kekerasan yang dipaparkan adegan demi adegan mengkhawatirkan aku pada sebuah kata, balas dendam. Pada akhirnya, kita hanya manusia dan sebagai manusia, kita cenderung melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan hanya karena contoh yang juga seharusnya tidak dicontoh. Film menarik yang menuturkan penderitaan manusia Yesus, penderitaan yang sesungguhnya denga rela dipanggul-Nya demi menanggung dosa-dosa manusia, membuat kita memandang para pelaku dengan rasa marah. Dan ingin membalas. Pada saat itu juga kekerasan menampakkan dirinya dalam bentuk kemarahan kita terhadap prilaku mereka yang telah menyiksa Kristus. Padahal, bukan itu maksud Yesus sendiri. Bukan, bukan itu. Dia yang telah bersabda “Kasihilah sesamamu manusia” tak akan pernah menerima tindakan balas dendam yang penuh kemarahan dan karena itu merasa sah untuk melakukan kekerasan terhadap sesama kita. Sesama kita semua. Siapa pun dia.

Tonny Sutedja

sumber :http://pondokhidup.blogspot.com/2008/03/sebuah-renungan-menjelang-paskah.html

Tuhan Memberikan Ketenangan

Posted on Kamis, 16 Februari, 2012 by saatteduh

– Diambil dari Renungan Gereja Kristus Yesus –

Bacaan Alkitab hari ini: Mazmur 62-63

Alkitab memberitahukan pada semua orang percaya bahwa ketenangan yang sejati itu datangnya dari Tuhan saja. Ketenangan tidak bisa didapatkan dari apa pun yang ada di dunia ini, apalagi dari kekayaan yang sifatnya hanya sementara.

Di sepanjang sejarah kehidupan manusia, dari bangsa dan suku mana pun juga, ketenangan hidup selalu dicari dan diburu dengan cara apa pun juga. Ada orang yang giat menumpuk kekayaan agar merasa tenang menghadapi kehidupan di kemudian hari. Ada pula orang yang mengandalkan kuasa tertentu untuk mendapatkan ketenangan yang diidam-idamkan, bahkan ada yang menyerang orang lain agar ketenangannya tidak terusik. Ada juga orang yang sangat bergantung pada obat-obatan untuk mendapatkan ketenangan. Beraneka ragam cara dilakukan manusia untuk mendapatkan ketenangan hidup di tengah dunia yang tidak menentu ini tanpa memperhitungkan kefanaan dunia ini. Ada banyak hal yang bisa terjadi dan mengambil “ketenangan” yang kita usahakan. Seringkali, usaha menggapai ketenangan itulah yang menjadi penyebab ketidaktenangan hidup. Itulah ironi yang terlihat bila manusia berupaya menggapai ketenangan dengan cara dan usaha sendiri.

Alkitab memberitahu orang percaya bahwa ketenangan adalah pemberian dari Tuhan yang kita terima bila kita dekat dan sungguh-sungguh percaya kepada-Nya. Sangat disayangkan bahwa banyak orang mengaku “percaya”, tetapi tidak sungguh-sungguh percaya pada janji-Nya sehingga tidak beroleh ketenangan dalam hidupnya. Pemazmur berseru bahwa percaya pada Tuhan itu harus dijalankan setiap waktu (62:9), baik waktu senang maupun saat susah, baik waktu masih muda maupun saat sudah tua. [HK]

Mazmur 62:2
“Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.”

sumber :http://saatteduh.wordpress.com/2012/02/16/tuhan-memberikan-ketenangan/

Valentine’s Day, Apa Maknanya Bagi Kita?

Valentine’s Day, Apa Maknanya Bagi Kita?
(G.I. Fenny Chitra)

Kok Orang Kristen Seperti Itu Sih. Tak Punya Kasih?
Orang-orang Kristen Seharusnya Saling Mengasihi.

Sebulan yang lalu, orang-orang di seluruh dunia merayakan hari Valentine, tepatnya pada tanggal 14 Februari, baik di negara-negara maju seperti halnya dengan Amerika hingga Indonesia tidak ketinggalan, setiap orang ikut merayakan hari Valentine. Anak-anak usia kecil, para remaja, para pemuda hingga orang tua, ikut merayakan hari tersebut. Dan jikalau kita perhatikan, pada bulan tersebut toko-toko, mal-mal bahkan tidak ketinggalan media elektronik, televisi hingga radio menyajikan hal-hal yang bernuansa Valentine. Kartu-kartu, bunga, coklat, boneka, dll juga merupakan sebuah tanda yang diberikan untuk menunjukkan perasaan kasih seorang kepada yang lainnya di hari Valentine.

Valentine, begitu bermaknanya hari tersebut… Mengapa bisa muncul hari tersebut? Dan apakah maknanya dalam kaitannya dengan kehidupan kita sebagai orang-orang Kristen?

Menyelusuri sejarah dimulainya peringatan hari Valentine tidak dapat dipisahkan dari seorang uskup di Terni (Italia) yang menyayangi dan disayangi oleh banyak orang. Khotbah-khotbahnya sering bertemakan kasih sayang Tuhan Yesus kepada semua orang. Pastor tersebut bernama Valentine. Pada suatu ketika Kaisar Claudius menghambat umat Kristen, Pastor Valentine juga ditangkap dan dipenjara serta dianiaya.
Namun dalam penjara, ia tetap mengingat semua orang yang dicintainya. Setiap hari ia membuat kartu bergambar hati dengan ucapan “aku cinta padamu.” Kartu-kartu itu dikirim satu per satu kepada tiap orang yang dicintainya. Semua orang yang ada di penjara itu juga merasakan kasih sayang Valentine. Mereka menempelkan kartu-kartu bergambar hati di sel mereka masing-masing. Setelah Pastor Valentine dihukum mati, orang-orang di penjara itu melanjutkan kebiasaan membuat dan mengirim kartu bergambar hati. Demikianlah kisah bagaimana tanggal 14 Februari bisa dirayakan menjadi hari Valentine karena memperingati apa yang pernah dilakukan oleh Santo Valentine selama hidupnya.

Lantas apakah maknanya hari Valentine tersebut bagi kita sebagai orang-orang Kristen? Perlukah orang-orang Kristen merayakan hari tersebut? Berkaitan dengan inti dari peringatan hari tersebut, hari Valentine dapat menjadi sebuah peringatan yang penting akan kasih. Kasih identik dengan kehidupan orang-orang Kristen. Bukankah sering terdengar komentar, “Kok orang Kristen seperti itu sih, tidak memiliki kasih?” “Bukankah sebagai orang-orang Kristen seharusnya mengasihi?” Orang-orang di dunia ini secara tidak langsung mengidentikkan orang Kristen dengan kasih yang seharusnya mereka miliki.
Kasih memang identik dengan Kekristenan. Karena kasihlah Tuhan Yesus datang ke dunia ini dan mati di atas kayu salib untuk umat manusia (Yohanes 3:16). Dan Tuhan Yesus juga memerintahkan setiap murid-Nya untuk saling mengasihi, “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi, sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi. Dengan demikian semua orang akan tahu bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi” (Yohanes 13:34-35). Kasih merupakan tanda bagi orang-orang di sekitar kita bahwa kita adalah anak-anak Tuhan.

Valentine merupakan sebuah momen yang tepat untuk kita kembali mengingat kasih dan perintah Tuhan. Sering karena kehidupan berjalan seperti biasanya sehingga kita melupakan kasih Tuhan dan lupa mempraktikkan kasih Tuhan; hubungan suami istri mulai terasa hambar karena rumah tangga berjalan dengan biasanya, kasih antara orang tua dan anak tidak lagi dirasakan karena kesibukan masing-masing, kita tidak lagi ingat untuk memperhatikan orang-orang di sekitar kita yang membutuhkan uluran kasih kita. Tetapi biarlah Valentine menjadi kesempatan yang mengingatkan kita akan kasih yang telah Tuhan berikan kepada kita dan kita diingatkan kembali untuk mengasihi orang-orang di sekitar kita. “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara dan saling mendahului dalam memberi hormat” (Roma 12:10).

Namun, kasih yang kita nyatakan kepada orang-orang di sekitar kita, biarlah tidak hanya kita nyatakan pada hari Valentine, tetapi dalam setiap hari dalam hidup kita, kita mempraktikkan kasih Kristus dengan mengasihi Dia semakin dalam dan mengasihi orang-orang di sekitar kita. Amin

sumber :http://www.gky.or.id/buletin/detail/2.htm

PERAYAAN NATAL 2011 @WISMA IMMANUEL

amazing people 🙂

MEMBERI PERSEMBAHAN DENGAN SUKARELA

Disadur dari Renungan Harian Air Hidup, edisi 26 Januari 2012 –

Baca: Keluaran 35:4-29

“Semua laki-laki dan perempuan, yang terdorong hatinya akan membawa sesuatu untuk segala pekerjaan yang diperintahkan Tuhan dengan perantaraan Musa untuk dilakukan – mereka itu, yakni orang Israel, membawanya sebagai pemberian sukarela bagi Tuhan.” Keluaran 35:29

Melalui Musa Tuhan memberitahukan hal-hal yang harus dilakukan oleh jemaat, di antaranya ialah persembahan sukarela yang keluar dari hati yang tergerak, bukan karena terpaksa atau dengan sedih hati. Dari pembacaan firman Tuhan hari ini kita mengetahui bahwa setiap orang mempersembahkan barang-barang yang dimilikinya seperti: “…setiap orang yang terdorong hatinya harus membawanya sebagai persembahan khusus kepada Tuhan: emas, perak, tembaga, kain ungu tua, kain ungu muda, kain kirmizi, lenan halus, bulu kamabing; penaga, minyak untuk penerangan, rempah-rempah untuk minyak urapan dan untuk ukupan dari wangi-wangian, permata krisopras dan permata tatahan untuk baju efod dan untuk tutup dada.” (Keluaran 35:5b-9). Alkitab tidak menyebutkan bahwa mereka membawa persembahan kepada Tuhan dengan suatu motivasi tertentu atau ada ‘udang di balik batu’.

Tidak sedikit orang yang memberi persembahan untuk pekerjaan Tuhan (menolong orang yang sedang dalam kesusahan, membantu korban bencana, menjadi donatur untuk yayasan-yayasan sosial dan sebagainya) oleh karena mereka memiiki motivasi-motivasi tertentu, tidak tulus ikhlas: supaya terkenal, beroleh pujian dan decak kagum dari orang yang melihatnya dan lain-lain. Tuhan tidak menghendaki persembahan yang demikian. Jadi, “…jika engkau memberi sedekah, janganlah diketahui tangan kirimu apa yang diperbuat tangan kananmu.” (Matius 6:3).

Tuhan mau apa pun yang kita persembahkan, baik itu untuk pekerjaan Tuhan atau menolong orang lain, kita memberikannya dengan hati yang tulus murni. Akitab menyatakan, “Hendaklah masing-masing memberikan menurut kerelaan hatinya, jangan dengan sedih hati atau karena paksaan, sebab Allah mengasihi orang yang memberi dengan sukacita. Dan Allah sanggup melimpahkan segala kasih karunia kepada kamu, supaya kamu senantiasa berkecukupan di dalam segala sesuatu dan malah berkelebihan di dalam pelbagai kebajikan.” (2 Korintus 9:7-8).

Memberi dengan sukarela dan tulus hati menyenangkan hati Tuhan!

  • Calendar

    • August 2017
      M T W T F S S
      « May    
       123456
      78910111213
      14151617181920
      21222324252627
      28293031  
  • Search